Senin

CERMIN SANG RATU

Jaman dulu di Negeri Antah Berantah, tinggallah seseorang ratu yang cantik jelita. Sang ratu mempunyai rutinitas aneh, yakni mengkoleksi bermacam jenis cermin dengan beragam jenis ukuran. Cermin-cermin itu digantungkan di dinding kamar Sang ratu hingga dinding kamarnya penuh dengan cermin. Sang ratu sangatlah sukai mematut diri di depan cermin-cermin itu serta kagum pada kecantikan dianya. Nyaris selama seharian ia mengerjakannya serta tidak bosan-bosannya ia berlenggak-lenggok di depan cermin-cerminnya.

Disuatu hari, waktu ratu tengah menyisir rambutnya, mendadak cermin yang dipegangnya terjatuh serta pecah. Sang ratu geram besar. Ia memerintahkan pengawalnya untuk membelikannya cermin baru.

” Maaf, Yang Mulia. Namun tidakkah Paduka telah mempunyai sangat banyak cermin. Untuk apa Paduka beli cermin lagi? ” Bertanya pengawalnya.

” Kurang ajar. Berani sekali kau menentang perintahku. Cepat pergi serta bawakan saya suatu cermin untuk ganti cerminku yang pecah. Atau kau mau saya hukum, haa? ”

Pengawal itu juga bergegas pergi ke toko cermin. Tetapi sayangnya, kata si yang memiliki toko tidak ada lagi cermin yang bisa di jualnya.

” Seluruhnya cerminku telah habis dibeli oleh ratu. Jadi tidak ada lagi yang bisa ku berikanlah padamu, ” kata yang memiliki toko.

Dengan gelisah si pengawal jalan menyusuri pasar untuk mencari cermin yang disuruh oleh Sang ratu. Tetapi tiap-tiap toko yang didatanginya senantiasa memberi jawaban yang sama. Dengan putus harapan, pengawal itu kembali pada istana. Tetapi di dalam perjalanan ia bersua dengan seseorang pemuda yang tertidur dibawah pohon. Di samping pemuda itu tersendar suatu cermin besar yang ditutup dengan selembar kain. Pengawal itu lantas hampiri pemuda itu serta memintanya untuk jual cermin itu padanya. Pemuda itu sangsi.

” Apa Tuan tahu, cermin ini bukanlah cermin umum. Saya cemas bila nanti malah bakal mencemoohkakan diri Tuan sendiri, ” kata pemuda itu.

” Namun bila saya kembali tanpa ada membawa cermin, Yang Mulia Ratu juga bakal menghukumku. Jadi tolonglah saya, ” pinta pengawal ketakutan.

Pemuda itu diam sesaat.

” Baiklah, Tuan. Saya bakal membantu anda. Saya bakal menghadap Ratu serta bakal menyerahkan cermin ini pada Yang Mulia Ratu, ” kata pemuda itu.

Pada akhirnya, mereka berdua menghadap Sang ratu. Ratu suka lantaran hasratnya untuk beroleh cermin baru terwujud. Ia tidak sabar untuk selekasnya mematut diri di depan cermin barunya itu.

” Maafkan hamba, Yang Mulia. Saat sebelum Yang Mulia membelinya, hamba cuma mau mengingatkan bila cermin ini tidaklah cermin umum. Cermin ini bakal tunjukkan muka asli dari orang yang bercermin padanya. Jadi hambamohon baiknya Yang Mulia memperhitungkan lagi hasrat Paduka itu, ” kata si pemuda.

” Lancang! Berani sekali kau berkata seperti itu. Apa kau ingin saya hukum, haa? ” Kata ratu murka. Pemuda itu ketakutan.

” Maaf, Yang mulia. Hamba cuma mau mengingatkan Paduka. Namun bila memanglah Paduka inginkan cermin ini, dengan suka hati hamba bakal mempersembahkannya untuk Paduka, ” kata si pemuda sembari menyerahkan cermin itu.

Ratu selekasnya menerimanya dengan suka. Ia selekasnya bercermin. Tetapi saat lihat bayangannya di cermin, Sang ratu menjerit kaget. Ia lantas memandang si pemuda dengan murka.

” Hai, anak muda. Apa maksud ini seluruhnya? Kenapa muka cantikku beralih jadi penuh dengan ulat didalam cermin ini? Apa kau ingin mengejekku, haa? ” kata ratu geram.

Si pemuda menyembah serta menjawab dengan ketakutan.

” Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tak pernah sekalipun coba menipu terlebih mengejek Paduka. Tidakkah hamba telah menuturkan bahwa cermin itu bakal tunjukkan muka asli seorang yang bercermin padanya, “

” Jadi maksudmu itu yaitu wajahku yang sesungguhnya? ” Bertanya ratu lagi.

” Maaf, Yang Mulia. Menurut hamba, itu mungkin saja yaitu peringatan untuk Paduka, bahwa Paduka janganlah cuma menyibukkan diri dengan memandangi muka cantik Paduka melalui cermin. Tanpa ada bercermin juga, muka Paduka telah sangatlah cantik. Baiknya Paduka lebih mementingkan nasib rakyat Paduka. Lantaran ada banyak rakyat yang memmbutuhkan perhatian dari Paduka. Maaf, Paduka. Bukanlah maksud hamba untuk menggurui Paduka. Tetapi hamba cuma coba mengartikan arti dari cermin itu. Jadi mohon Paduka mengampuni hamba, ” kata pemuda itu sembari menyembah.

Ratu tertegun mendengar perkataan pamuda itu. Ia sadar bahwa sampai kini ia memanglah terlampau repot bercermin sampai masalah rakyat terlewatkan.

” Terima kasih, anak muda. Anda benar. Sampai kini saya memanglah terlampau repot bercermin. Mulai saat ini, saya berjanji bakal lebih mementingkan rakyatku. Serta satu hal lagi. Bolehkah saya beli cerminmu? ”

Pemuda itu terperanjat.

” Untuk apa, Yang Mulia? ” Tanyanya heran.

” Juga sebagai peringatan agar saya tak melalaikan tugasku dalam menyejahterakan rakyatku. Tidakkah memanglah itu pekerjaan seseorang pemimpin? ” Jawab ratu.

” Bila memanglah sekian, dengan suka hati hamba bakal menghadirkan cermin ini untuk Paduka, ” kata si pemuda.

Mulai sejak waktu itu, ratu tidak lagi repot dengan cerminnya. Bahkan juga, saat ini kamarnya tidak lagi dipenuhi oleh beberapa ribu cermin. Cuma ada satu cermin yang ada di dinding kamarnya, yakni cermin ajaib pemberian si pemuda. Bahkan juga semua cerminnya ia bagikan pada rakyat yang membutuhkannya. Serta negeri itu juga makin makmur serta tenteram karena cermin ajaib yang senantiasa mengingatkan Sang ratu jika ia lupa dalam tugasnya.
Disqus Comments